Haram Menjadi Waras

0
646

Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa, hanya memiliki tiga musim, yakni musim hujan dan musim kemarau yang berganti dalam satu tahun.  Kemudian sekarang masyarakat juga mengenal musim pemilu yang datang 5 tahun sekali. Musim ini biasanya ditandai dengan banyaknya orang yang tiba-tiba baik, tiba-tiba ramah, tiba-tiba perhatian, dan tiba-tiba lainnya. Maka kenalilah musim ini dari gejala yang serba tiba-tiba.

Nusantara adalah julukan atau nama yang dilekatkan pada gugusan pulau-pulau di negeri ini, membentang dari ujung sumatra Sabang sampai Papua. Sejak dahulu masyarakatnya dikenal ramah pada siapapun, bahkan kepada musuh sekalipun. Yah sekarang pun masyarakat masih tetap ramah dan selalu menebar senyum, tetapi hanya pada sesama (sesama cebong atau sesama kampret).

Karena letak geografis yang luas, Indonesia dibagi atas tiga bagian waktu yaitu Indonesia Bagian Barat (WIB), Indonesia Bagian Tengah (WITA) dan Indonesia Bagian Timur (WIT). Itu dulu, sebelum masa kampanye genderuwo dan sontoloyo menyerang, sebelum akupuntur 1000 titik kampanye menjadi tagar. Kini Indonesia hanya ada bagian Kampret dan bagian Cebong, dipisahkan oleh garis fanatisme dan tingkat ketololan.

“Kerja… Kerja…. Kerja….”

Mungkin itulah slogan salah satu paslon yang selalu dinyanyikan pendukungnya, namun slogan itu tak lagi cocok untuk bangsa ini. Sebab masyarakat kita memang tidak senang bekerja, lebih gemar mengomentari apapun yang tidak ia pahami.

“Berdaulat, anti asing”

Itulah yang dikatakan calon oposisi, katanya hendak berdiri di kaki sendiri. Namun nyatanya masyarakat kita tidak ingin menjadi mandiri. Negara ini sangat pro asing, bukan karena pemerintah membuka kran investasi terlalu lebar. Namun sampai saat ini masyarakat kita lebih menyenangi produk dari luar negeri daripada produk dalam negeri. Setiap hari kita menggunakan Smartphone dari Cina untuk meneriakkan bahwa kita tidak anti aseng. WTF. Setelah ini coba cerminnya dipakai buat ngaca, bukan buat selfie.

Bangsa ini sedang memasuki masa pubertas, reproduksi telah matang namun pola pikir masih kanak-kanak. Masyarakat kita sedang demam bersosial media, menyebarkan hoax  tanpa rasa berdosa. Generasi yang kurang membaca, tak bisa membedakan mana blogspot dan mana kanal berita terpercaya. Yang penting sesuai dengan ambisi dan nafsu, tanpa peduli hoax pun dikonsumsi.

Teknologi memang untuk memudahkan urusan manusia, namun tanpa pengetahuan yang seimbang manusia hanya akan menjadi pasar untuk perdagangan teknologi. Terlebih dengan teknokrat yang suka memanupulasi kesadaran publik, dari balik bilik mereka meramu kurikulum pembodohan. Sebab dari kebodohan itulah para politisi dapat mengontrol massa di sistem demokrasi. Jika masyarakat menjadi cerdas, maka usailah karier para mafia demokrasi.

Tak perlu menjadi jenius untuk memajukan negera ini, toh tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. Cukup menjadi waras, sebab terlalu banyak orang gila yang menjadi idola anak-anak bangsa. Salam waras untuk 2019, tak perlu “menjemput rejeki” untuk mencuri perhatian netizen. Cukup menjadi calon presiden guyonan, maka percayalah pemilu ini tak lebih dari sekedar lawakan. Tak ada yang perlu diributkan, toh visi misi hanya ajang pamer wacana.

Tak perlu berharap banyak pada para calon pilihanmu untuk mengubah nasib pribadimu, tak perlu berharap banyak bahwa presidenmu di hari mendatang akan memikirkan nasibmu. Sebab kita sendirilah yang harus memikirkan nasib diri sendiri, karena masyarakat yang kuat tidak akan berharap banyak pada negaranya. Negera yang makmur ini hanya akan menjadi peternakan kekayaan oleh para penjajah dan mafia. Kecuali masyarakat kita mau mengalokasi energi yang biasa digunakan untuk mencela, nyinyir, dan menghujat pada hal yang lebih produktif. (nakal boleh tolol jangan)

Ahmad Rais Habis S

Berikan Pandanganmu...