Jalan Kreatif Melawan Ketololan

0
654

Berislam bukan saja memilih jalan keselamatan, tetapi juga memijak jalan kreatif. Ajaran Islam tidak melulu harus sakral dan intim, pada bagian-bagain tertentu terlebih pada urusan dengan sesama makhluk, Islam adalah wajah yang kreatif. Kreatif dapat diartikan sebagai cara menyederhanakan perkara rumit, atau dapat pula sebagai cara cerdas untuk merombak tatanan yang sudah buntu.

Suatu waktu Ibrahim di kuil tempat sesembahan masyarakat Babilonia, berjejer patung-patung buatan manusia diantaranya ada satu patung yang paling besar. Datanglah Ibrahim dengan kapak lalu menghancurkan semua patung dan menyisakan satu patung yang paling besar lalu dikalungkan kapak itu di leher patung tersebut.

Sang raja dan rakyat Babilonia murka, Ibrahim adalah tersangka utama karena dialah satu-satunya orang yang tinggal di pemukiman sekitar kuil waktu itu. Ketika ditanya siapa yang melakukan hal itu ia hanya menjawab “tanyakanlah pada patung yang paling besar.”

“Kau sudah sinting, bagaimana mungkin sebuah patung bisa berbicara” demikianlah kira-kira tudingan sang raja pada Ibrahim.

“Justru kalianlah yang sinting, bagaimana bisa kalian menyembah tuhan yang tidak bisa membela dirinya sendiri, bahkan berbicarapun tak mampu” terjadi dialektika dan Ibrahim lah pemenangnya. Sang raja dibuat tak berkutik, namun atas kekuatan segala bala tentara ia memerintahkan agar semua orang mengumpulkan kayu bakar untuk membar Ibrahim.

Di lain kisah, ada Musa yang datang bersama Harun untuk memperingatkan Fir’aun yang telah mengaku Tuhan. Ketika memasuki Mesir, mereka dihadang dan dibawa ke hadapan raja yang terkenal dzalim itu. Lalu disampaikanlah perintah Allah agar Fir’aun segera kembali ke jalan yang benar. Fir’aun meminta bukti jikalau memang Musa adalah seorang rasul. Maka ditunjukkanlah mukjizat-mukjizat, namun setiap Musa menunjukkan mukjizat, Fir’aun selalu menyangkal bahwa itu tak lebih dari sihir dan ia memiliki penyihir yang jauh lebih hebat.

Maka di ujung jumpa, terjadilah kesepatakan untuk menguji kehebatan antara penyihir-penyihir Fir’aun dengan mukjizat Nabi Musa dihadapan rakyat Mesir. Ketika hari itu tiba maka Musa dengan tenang menghadapi penyihir-penyihir Fir’aun yang memiliki wajah bengis. Ketika semua penyihir menghadirkan ular di depan penonton, Musa melemparkan tongkat dan berubahlah menjadi ular yang sangat besar dan memangsa semua ular milik penyihir. Seketika penyihir-penyihir itu gemetar dan banyak yang tunduk beriman.

Masih ada banyak kisah-kisah kreatif para nabi, rasul dan alim ulama dalam menghadapi problema kehidupan. Mereka bukan hanya bersempurna dalam ber Tuhan, namun juga memijak jalan kreatif dalam menyelesaikan masalah.

Dialektika yang dicontohkan oleh Musa dan Ibrahim dalam menunjukkan ketololan pada zamannya, harusnya menjadi contoh bagi kita. Bahwa masalah yang terlihat keras, membatu seperti Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan. Tidak cukup dihadapi dengan kekuatan semata (mukjizat), butuh jalan diskusi, dialektika hingga debat untuk menyadarkan orang-orang sekitar mengenai kebusukan dan kebobrokan penguasa.

Menentang kebodohan tidak cukup dengan urat leher semata. Cara terbaik untuk melawan kebobrokan adalah menggerus kepercayaan publik tehadap objek yang dianggap menyesatkan itu. Maka harus ada ruang diskusi, ruang edukasi tak hanya sekedar mencaci maki.

Seorang pendakwah yang hanya meminbar semata, tanpa menyelami kehidupan masyarakat secara seksama hanyalah menjadi pendakwah teks yang kadang kala jauh dari konteks. KH. Ahmad Dahlah dapat menjadi contoh seorang revulosioner yang telah menanamkan satu roda di mesin perubahan. Ketika beliau berjuang di jalan pendidikan, lalu dianggap kafir karena mengadopsi sistem pendidikan Barat. Namun orang yang mencela tak pernah dibalas dengan celaan serupa oleh KH. Ahmad Dahlan, karena beliau memahami bahwa masyarakat kala itu hanya terbelakang dan tidak memahami visinya. (nakal boleh tolol jangan)

Ahmad Rais Habib S

Berikan Pandanganmu...