Belajar dari Coutinho: Rela Menjadi Akar, Agar Pohon Tumbuh & Berkembang

0
130

Oleh: Haruma

Dalam kehidupan, seseorang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan, entah kecil atau besar. Untuk membebaskan dari hal semacam ini, seseorang mesti mengambil keputusan di antara banyak pilihan. Pada proses inilah seringkali dilema itu muncul. Yaa, dilema. Ia bagaikan ruang penjara yang penuh sesak oleh hasrat-hasrat manusia. Penjara itu akan terbuka jika tahanannya telah menghadapi pilihan atas tindakannya sendiri, menerima pilihan yang telah diambilnya dan resiko yang dihadapinya.

Hal itu juga yang dialami oleh pesepak bola Philipe Coutinho. Dalam karir sepak bolanya ia pernah dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Dahulu ketika membela Liverpool pada Musim 2016/2017, Coutinho memiliki torehan yang cukup gemilang dengan catatan 14 gol. Ia menjadi pemain yang cukup bersinar dan dipertimbangkan. Bahkan pada musim 2014/2015 ia berhasil menyabet empat gelar bergengsi di antaranya: Player of the Year, Players’ Player of the Year, Goal of the Year, dan Performance of the Year (Wikipedia.com). Liverpool menjadi club yang membesarkannya setelah gagal memberikan catatan baik ketika bermain di Inter Milan pada musim sebelumnya.

Jurgen Klopp mempercayainya dengan sepenuhnya. Namun Coutinho ternyata memiliki keinginan yang lebih jauh daripada menanti ‘pemberhentian’ puncak karirnya di Liverpool, setelah melihat Neymar pada tahun 2017 meninggalkan Barcelona. Coutinho menjadi salah satu pemain yang namanya tercantum pada bursa transfer sebagai  pemain pengganti. Hal ini tentu membuka jalan bagi impiannya untuk berlari lebih jauh. Inilah yang kemudian menjadi dilema bagi pesepak bola kelahiraan Brazil ini. Akankah ia memilih bertahan di Liverpool dengan kegemilangan yang sudah dicapainya, ataukah berpaling pada Barcelona?. Klopp bahkan menganjurkan dirinya untuk tetap bertahan, dengan dalih ia sudah menemukan posisi yang tepat dengan gaya permainannya dalam tubuh Liverpool.

Namun kehendak untuk berkembang memang menjadi motivasi yang mendominasi, menjadikan Coutinho rela meninggalkan klub yang telah membesarkannya. Meskipun begitu, Klopp dan teman-temannya di Liverpool akhirnya merelakan kepergian dirinya. Keputusan telah bulat, ia telah terbebas dari penjara yang bernama dilema. Impiannya untuk bermain satu lapangan dengan Lionel Messi akhirnya terwujud. Namun siapa sangka, ternyata ia menghadapi sesuatu yang lebih mengerikan, ia tak bisa bermain all out dengan formasi Barcelona yang paten, ia tak bisa mengimbangi permainan semacam Messi dan Suarez. Justru ia terbingkai oleh bayang-bayang permainan mereka berdua. Kalau dianalogikan, ia bagaikan sebuah sel yang tidak lagi sesuai dengan tubuh semacam Barcelona dengan gaya permainannya.

Hingga tibalah momentum di mana Barcelona dikalahkan oleh Liverpool dalam laga semifinal UEFA Champion League pada 2019 yang lalu. Kemenangan yang dramatis bagi Liverpool, dan sialnya, catasthrophic bagi Barcelona. Liverpool berhasil melakukan epic comeback  terbaik dalam sejarah. Melihat suasana sedemikian rupa, Coutinho merasa bahwa pilihan yang pernah diambilnya ternyata kurang tepat. Namun apalah arti kekalahan? Coutinho tetap memilih untuk melanjutkan kehidupan, melanjutkan karirnya. Di lain sisi ia merasa lega dan  menerima kekalahannya. Kepergiannya dari Liverpool dirasa memang tepat, karena Klopp menemukan strategi baru untuk mengisi kekosongan yang ada. Beberapa pemain baru dimasukkan, Termasuk Salah, yang kini menjadi bintang the reds, julukan Liverpool. Saat ini ia melanjutkan karirnya di Bayern Munchen atas persetujuan Barcelona terhadap proposal peminjaman pemain yang telah diajukan.

“Life must go on”, begitu kiranya judul lagu yang dipopulerkan oleh Alter Bridge. Kehidupan memang menyimpan banyak sekali rahasia, apapun pilihannya seseorang tidak boleh menyerah pada keadaan. Perjalanan yang dilalui oleh pesepak bola yang satu ini memang perlu diapresiasi. Bagi penulis sendiri, Coutinho bagaikan akar. Kenapa akar? Karena pada akhirnya ia merelakan dirinya untuk tertimbun oleh gundukan tanah, terselimuti gelap tanpa popularitas yang menyilaukan. Ia menjadi akar bukan tanpa alasan, kehidupan akhirnya memberikan rumus baginya untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan pohon, menjadi perantara mengalirnya air dari pembuluh xylem menuju kapiler. Liverpool memang pantas tumbuh tinggi, menjulang ke atas. Coutinho akhirnya memahami bahwa setiap keputusan tak ada yang keliru, karena memang hidup adalah tentang pilihan. Tetap semangat yaa, Coutinho! (nakal boleh tolol jangan)

Berikan Pandanganmu...