Drama Perseteruan Iran-Amerika ala William Shakespeare (Part 3)

0
114

Oleh: Haruma

Asumsi bahwa peristiwa belakangan ini memang terlihat telah diperhitungkan oleh sebuah pihak menguat. Dugaan bahwa Amerika berusaha mencari perhatian dunia memang tidak bisa lagi ditolak. Hal ini terbukti dengan gairah yang ditunjukkan oleh bahasa tubuh Trump yang seolah-olah memanfaatkan momentum belakangan ini untuk mengemasnya menjadi semcam benteng pertahanan terhadap banyak kecaman atas pembunuhannya terhadap Jendral besar Iran, Qassem Soleimani. Peristiwa jatuhnya pesawat Ukraina yang menewaskan hingga 176 orang menjadi tragedi yang mengerikan. Pihak militer Pasukan Revolusi Islam (IRGC) Iran memberi pengakuan yang mengejutkan banyak pihak, bahwa penyebab jatuhnya pesawat Ukraina itu disebabkan rudal yang telah mereka tembakkan. Polemik ini kemudian menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan publik, salah satunya penulis. Karena Iran terlihat begitu ceroboh dengan menembakkan rudal yang salah menyasar itu, terlebih lagi tidak ada penjelasan yang lebih detail dari pihak militer Iran sendiri kecuali pengakuan bahwa kecelakaan itu adalah murni karena kesalahan manusia (human error) .

Namun kita akhirnya bisa sedikit mengintip apa yang terjadi di balik itu. Pemberitaan terakhir beberapa media adalah tentang pidato Jum’at (17/01/19) yang disampaikan oleh Ayatollah Ali Khomeini, pemimpin tertinggi Iran, yang menyampaikan pembelaannya terhadap kasus jatuhnya pesawat Ukraina. Ia mengakui bahwa sangat bersedih tentang tragedi yang telah terjadi, juga berusaha menenangkan masyarakat Iran yang sedang mendapat banyak tekanan dari berbagai pihak. Lebih dari itu, yang lebih menarik adalah dugaannya bahwa Amerika memang berusaha memanfaatkan momentum ini untuk membayang-bayangi perbuatan yang telah dilakukannya terhadap pembunuhan Jenderal besar Qassem Soleimani. Ia juga menduga dukungan Trump terhadap para pendemo Iran yang menentang penembakan rudal terhadap pesawat Ukraina adalah palsu, ia beranggapan pada akhirnya Trump akan menusuk mereka dari belakang dengan belati tajamnya karena justru pihak Trump terlihat sangat berbahagia di balik kesedihan yang menimpa dunia, terutama Iran. Penulis pun berpandangan demikian, bahwa isu jatuhnya pesawat itu secara ajaib dan perlahan  menghilangkan jejak pembunuhan jenderal besar tersebut, bagaikan debu di atas batu yang tersiram air. Apalagi hampir seluruh mata media menyorot ke sana. Nah biasanya nih, kalau lensa kamera semakin fokus pada objek tertentu, otomatis sesuatu di sekitarnya yang mungkin saja berpentas dalam layar drama yang sama, akan tersamarkan atau menjadi bluur. Ini sekedar analogi yang dihadirkan penulis saja, toh nantinya akan terlihat apa itu yang disebut ‘behind the scene’, atau apa sebenarnya kasak kusuk yang tidak diperlihatkan oleh lensa media.

Dugaan ini bukan hanya berasal dari imajinasi penulis saja. Dilansir dari AFP (kantor berita Prancis), Mentri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menduga Iran melakukan kesalahan fatal menembak pesawat Ukraina dengan rudal karena gugup diprovokasi oleh jet tempur f-35 milik Amerika Serikat. Tuh lihat redaksinya, ia bilang bahwa Iran telah ‘diprovokasi’. Meskipun belum ada keterangan yang lebih dalam, namun tetap saja dugaan itu disampaikan oleh seorang elite politik yang seharusnya siap mempertanggungjawabkan ucapannya di hadapan publik. Ia juga menduga ada sekitar enam jet tempur F-35 milik Amerika di wilayah udara perbatasan Iran. Hal yang selalu menjadikan publik jengkel, sebenarnya adalah ketidaktajaman mata pers dalam menyelisik jejak suatu peristiwa yang terjadi. Kalaupun ada sebuah analisis, itu pun belum cukup dalam. Masyarakat yang dihasilkan oleh sistem demokrasi yang jernih bisa dipastikan dengan mudah membaca gerak gerik seperti itu. Salah satu misal dari analisis dangkal semacam itu adalah yang dilakukan oleh Kasra Naji, seorang Jurnalis BBC di Iran, yang sekedar menganggap pidato yang disampaikan oleh Ayatollah Ali Khomeini haanya sekedar motif untuk mempertahankan kekuasaan. Publik tentu menganggap itu benar, namun tak cukup dalam untuk membuat sinopsis yang lengkap dalam kepala, untuk mengantarkan kepada kemungkinan-kemungkinan apa yang hendak terjadi kemudian. Kiranya sangat baik bagi kita bisa menjadi semacam katakanlah–jurnalis jalanan—yang berhak untuk mengutak-atik peristiwa dunia secara independen, tanpa mengandalkan headline dari media massa tentunya.

Pidato yang disampaikan oleh Ayatollah Ali Khomeini, bagi penulis bukan hanya sekedar gairah untuk mempertahankan kekuasaan, namun lebih daripada itu adalah berusaha untuk mempertahankan harga diri negara Iran dihadapan dunia. Bukankah sejak awal penulis sudah bilang? Bahwa urusan kedua negara bukan seperti perkelahian suami istri, yang bisa berdamai dengan menurunkan salah satu ego di antara mereka?. Namun sudah mencapai taraf problematika yang, meminjam bahasa Shakespeare—to be or not to be—berurusan dengan hidup atau mati. Hmm, menarik untuk dinantikan kelanjutannya bukan? hehe.

Oh ya, sebelum tulisan ini berakhir, penulis ingin mengajukan satu pertanyaan. Teman-teman ada yanga tau nggak, kenapa dugaan provokasi oleh Amerika terhadap Iran yang menyebabkan kecerobohan IRGC itu justru diucapkan oleh Menlu Rusia, Sergei Lavrov (nakal boleh tolol jangan)

gambar: politicalmarkaz.com

Berikan Pandanganmu...