Duit Penyinyir Lebih Banyak, yang Berkarya Tak Sampai Sepetak

0
173

Indonesia banyak orang pintar, tapi sedikit bahkan begitu langka orang yang berfikir besar, yang paham teori begitu banyak, tapi yang pandai merealisasikan tak sampai sepetak. Apakah selama kita belajar bertahun-tahun hanya diajarkan pandai menghafal? Atau pandai bercakap sedangkan untuk melangkah malah gagap? Jika memang begitu patut kita tinjau ulang untuk bersekolah, sebab orang di negeri ini tak bisa menjadi seorang creator yang mendahulukan lelah, malah mendahulukan senang tak ingin “berdarah-darah”.

Seolah bangsa ini miskin akan percontohan yang menginspirasi, dimana sanubari tak bisa berapi-api yang seolah mati. Orang besar tak cukup makan saja untuk menjadi besar, meraka pasti memulai dari hal kecil yang tersusun menjadi besar. Namun bangsa ini lebih gemar menyinyir dari pada berfikir, lebih gemar mencaci dari pada berkarya pasti, bahkan penyinyir dan pencaci menajadi suatu profesi. Walaupun bebas berdemokrasi, tak sesederhana mengambil rapot anak tanpa berbusana yang menutupi, tapi demokrasi yang transit ke otak hingga beradab dalam berasumsi.

Belajar dari orang-orang besar yang menjadi miliarder dengan kisahnya yang tak se-simple menggoreng telur mata sapi, seperti seorang hacker amatir hingga mendirikan Facabook, dari sopir truk menjadi pemilik Starbuck, berternak ayam Sadino menjadi miliarder, hingga kisah Susi Pudjiastuti menjual perhiasan emasnya untuk berjualan ikan. Semua dimulai dari hal yang receh hingga menjadi tumpeh-tumpeh, befikir besar dengan mengawali langkah yang remeh temeh.

Tipikal orang yang berfikir besar tentu berjiwa progresif dan menikmati dinamika dengan gencar, asam dan pahit menjadi bumbu penikmat tanpa bergusar. Serta paham apresiasi dan menghargai orang, termasuk yang menyinyir ia perlakukan dengan tetap bergerak lantang. Sebab manusia yang paham berkarya akan menghargai suatu usaha, menularkan kesuksesan dengan menginspirasi banyak nyawa, dan membalas nyinyiran dengan barisan karya.

Itulah mengapa negeri kita banyak orang pintar menyinyir, dari pada yang berkarya yang begitu fakir. Dimana ujung mulut mendahului langkah kaki, rasa dengki menghambat karya pasti, menyinyir berbahasa atraksi hanya untuk menggapai sensasi, pantaslah jika bangsa ini hanya penguntit bangsa lain yang telah terbang membumi. (nakal boleh tolol jangan)

 

Rizan

Berikan Pandanganmu...