Logika Tanpa Kasih Sayang Itu Kejam: Pilihan Ini Menyakitkan

0
333

Satu-satu perjumpaan singkat membuka tabir, sedikit terbuka mengenai sifatku yang tak suka berdebat. Mengenai tujuan hidup aku ingin terus bergulat, aku masih memiliki dunia satu tanggung jawab yang tak mungkin aku abaikan.

Dunia kecilku, darah sesusuanku satu-satunya. Ia teman sekaligus pejaga mata jauhku bagi kesehatan ayahku. Dania, adik lelaki kecilku. Namun, kabar dari Prancis yang keluar dari mulut kekasihku membuat semua cita-cita menjadi hambar.

Perdebatan kuusaikan dan Prancis menjadi pilihan. Mengalahku agar segala angan dan cita-cita yang disusun penuh cinta, tetap kokoh bagai bahtera yang membawa kita berlabuh menentang badai kehidupan.

Sebab cinta tak selamanya menjadi pilihan bahagia, kadang kala cinta menyebabkan tangisan pada hati terdalam. Dengan segala kesempurnaan Asma-Nya seorang lelaki harus memilih terluka dalam duka demi bersanding dengan pujuaannya.

Beginikah Tuhan membawa ke jalan bahagia? Menempatkan pada persimpangan dan aku harus memilih.

Hingga bergeser jawaban untuk berpindah, namun Prancis ingin disegerakan. Beban ini semakin memukulku. Semua kebutuhan hijrah ke Prancis segera kami urus, segala dokumen kenegaraan dan dokumen persiapan perpindahan kerja Shinta dari Indonesia ke Prancis.

Dengan segala bantuan pertemanan keluarga kekasihku, semua menjadi mudah. Namun batinku semakin rumit, ayah tak mempersahakan kepindahanku. Baginya masa depanku juga penting. Sedang adikku Dania, tinggal bersama ayah dalam pengawasan tanteku yang bertetangga dengan kami.

Kini Shinta dan aku kembali bersibuk dengan dunia masing-masing, masih dalam penantian hari pernikahan. Kini dalam penantian aku berharap waktu tak datang begitu cepat, sebab selang sehari setelah pernihakan aku dan Shinta harus bersegera menuju Prancis. Tawaran dari negeri Eiffel itu tak dapat lagi menunggu.

***

Hingga pada suatu waktu Dania mengirimkan pesan WA bahwa kabar ayah semakin memburuk, dan firasatku pun tak ingin mendahului doa. Namun setelah diagnosa terakhir, amatlah susah mendapatkan keajaiban kedua. Kini bagi ayahku keajaiban hanya dari menyegerakan pernikahan. Kejaiban itu, tak mungkin terpenuhi ditengah padat kami.

Seminggu sebelum hari pernihakan keadaan ayah semakin memburuk, tak tahu mungkinkah masih sempat ayah menyakasikan pernikahan aku dengan kekasihku. Betapa terjal jalan menuju bahagia wahai Tuhanku yang menitipka cinta.

Prancis atau Ayah?

Dilema ku ini bencana. Ah.. inilah langkah lelaki yang harus dipilih. Aku mencintai ayahku tapi aku berharap masa depanku. Sakit ayah semakin parah dan mungkin usianya tinggal berhitung hari saja. Akulah yang menanggung siksa dan derita dalam penantian cinta ini, air mata seorang lelaki tak henti tertumpah dengan segala persoalan.

Pernihakan kurang dari seminggu lagi sedang ayahku dalam keadaan sekarat, harapan dan cita-cita seolah tak terlihat lagi. Memandangi seorang lelaki yang dahulu begitu perkasanya menggendongku ketika usia balita.

Apa yang bisa aku berikan jika segala cinta dan kasihnya telah dicurahkan padaku sepangjang hidupnya. Kini tawanya daluhu hanya terbalas tangis dalam jiwa. Segala upaya mencukupkan kehidupaku berbalas dengan segala kertebatasan tak mencipta keajaiban.

Pilihan itu terjadi, kabar terburuk terjadi, ayahku masuk liang lahat. Aku melepaskan nafasnya dengan Asma Tuhan ku. Dan hari pernikahan harus mundur, namun Prancis terus tak bisa dinegosiasi dan diundur.

Dania yang masih kecil histeris menangis memandangi ayah yang terbaluk kain kafan masuk kedalam liang lahatnya. Sendang aku menyambut badan yang kaku dalam liang lahat untuk meletakkan pada persinggahannya. Ayahku menggendong badan kecilku ketika aku masih menyusui, dan kini aku membopong badannya mengantar pada istirahatnya.

Sembilu menikam pilu, cinta kini menjadi derita. Dunia yang penuh harapan kini berubah menjadi ratapan. Seorang lelaki malang yang ditinggal ibu waktu remaja, dan ayah pun harus berpamitan dipintu pernikahan. Tak ku bersedih dengan kepergian seorang ayah, kuyakin setiap yang bernyawa harus membayar dengan kematian.

Tapi tidakkah aku diizinkan sejenak bahagia bersama orang yang kucinta? Apakah semua hari bahagia ini kujalani sendiri tanpa senyum hangat ayah dan ibu. Hari pernihakan itu seoalah lagi tiada artinya, jika bahagia tidak dapat kusematkan dalam keluarga kecil ini.

Usai pemakaman dan aku masih termenung memandangi dua gudukan tanah didepanku, hanya di temani Shinta yang datang bersma keluarganya. Mungkinkah aku harus mengubur kenangan masa kecilku bersama kedua orang yang kucinta itu?. Saat ibu meninggal ada ayah yang memelukku erat dalam tangisan, sedang saat ayah meninggal tak ada lagi yang memeluk menenangkan. Tangan Dania terlalu kecil sedang tak mungkin juga Shinta memelukku padahal akad yang belum terucap.

Aku tak tahu harus bagaimana, diam membisu dengan segala persoalan. Tanggal pernikahan tinggal dua hari lagi, Prancis pun tak lagi dapat menunggu. Aku dalam keterpurukan, segala angan dan cita-cita terkubur bersama ayahku. Shinta kemudia menayakan persoalan Prancis padaku

“Mas dua hari lagi pernikahan kita berlangsung, sedang sehari setelahnya kita harus segera ke Prancis sebab itu kesempatan terakhir bagiku. Aku tahu ini begitu berat bagimu, maka aku ingin bersamamu dalam keterpurukan ini. Berangkatlah kita ke Prancis membangun harapan baru di negeri Eiffel”.

Seketika hatiku makin sedih dan luka, “tak bisakah engkau sejenak berhenti berbicara soal Prancis mu? Engkau tak sedikitpun mengerti apa yang kurasakan. Aku sedang terluka dan bimbang, aku mohon jangan bicara soal Prancis itu”.

Dengan tenang dan mencoba memahami, Shinta menjawab “maafkan aku mas, akupun tak ingin berbica soal itu. Namun kita telah sampai pada penghujung waktu, dan perkara ini pun tak mungkin menunggu. Soal pernikahan dan pemberangkatan ke Prancis”.

Dirikulah sang pengelana tak tahu arah, antara barat dan timur tak bisa ku  bedakan. Antara Paris dan Jogja tiada lagi memberi arti, harapanku tenggelam dalam samudra yang dalam. Perdebatan kami makin panjang, Shinta memaksa agar rencana awal tetap berjalan. Menjalankan pernikahan dua hari setelah kematian ayahku dan sehari setelahnya berangkat menuju Prancis.

“Apakah aku sebegitu kejamnya?, aku dan Dania kehilangan satu-satunya yang kami cinta. Betapa terpukulnya Dania yang masih kecil. Dan engkau memintaku meminangmu dalam segala isak tangis adikku. Dan engkau pula memintaku meninggalakan Jogja sedang adikku penuh kehancuran. Tidakkah engkau mengerti keadaanku ini?” ujarku padanya.

Shinta dengan tabiatnya yang teguh pada pendirian menjawab dengan tegas “Derita bukan hanya milikmu. Sakit bukan hanya pada dirimu. Akupun pernah lebih sakit dari ini, engkau tak tahu saja ibukupun telah meninggal sejak aku SMP. Wanita yang kau lihat bersanding dengan ayahku hanyalah ibu tiriku. Ibuku meninggal dengan segala siksa cintanya karena ibu tiri itu. Sejak itu ibu tahu ayah selingkuh dengan wanita lain, dan sakitnya membawa pada ujung usia. Walau pada akhirnya aku mencoba mengalah dan berdamai dengan masa laluku. Tetap saja sakit dan derita ibu sebagai wanita yang kucinta, tak mungkin aku lupa sebagai darah dagingnya. Telah lama aku ingin meninggalkan segala kenangan dan luka di negeri ini, maka langkahku tak dapat ditahan lagi. Senyum ibu tiriku dan ayahku dalam kebahagiaan mereka, adalah siksa bagiku”.

Logika tanpa kasih sayang memang kejam. Perdebatan memicu pertengkaran yang berujung perpisahan. Shinta masih kokoh dengan tekadnya, sedang aku masih terdiam dalam rasaku. Maka pada persimpangan memilih jalan yang berbeda sebab pandangan hidup tak sama.

Pernikahanku gagal karena ego yang menyelimuti jiwa, Shinta dengan marahnya terbang meninggalkan Indonesia menuju Prancis. Aku tak menyangka pertengkaran atas nama duka ayahku berujung derita. Shinta marah besar padaku seoalah diriku hanya memikirkan keluargaku sendiri.

Shinta ku, engkau membunuhku dengan pisau cintamu itu. Tak memberi pilihan pada lelaki malang ini. Haruskah aku ikut memakan buah Khuldi dan terhempas dari surga agar tetap bisa bersanding denganmu?

Sekejam itu engkau padaku, meninggalkanku dengan segala luka. Aku menguatkan hatiku, sebab melepaskan tak selalu kehilangan. Kini engkau terhempas pada negeri yang jauh, sejauh harapan dan cita-citaku terkubur. Aku telah kehilang matahari sekaligus bulan dalam hidupku. Hidupku kini dipenuhi kegelapan.

Perjuangan cinta anak Adam berujung pada penyiksaan, karena engkau memakan buah khuldi itu sendirian wahai Hawa ku. Kita kini terhempas pada dunia yang berbeda, hingga aku harus mencari dan memakan buah Khuldi yang lain. Agar bisa menyusulmu pada negeri yang jauh, meski terhempas dari surga. (nakal boleh tolol jangan)

Kesendirian tak selalu mengakhiri kisah………(bersambung)

 

Siput Ranger

Berikan Pandanganmu...