Tahun Baru: Resolusi atau Col*?

0
203

Di penghujung tahun yang bertepatan dengan musim penghujan, jalanan yang ramai dan genangan dimana-mana. Media sosial penuh dengan postingan resolusi atau pamer foto jalan-jalan bersama keluarga. Ada pula yang sibuk memilih jalan spiritual dengan mencoba menciptakan antitesa perayaan kembang api diganti dengan kajian hingga subuh hari. Tahun baru memang seperti permen nano-nano, rame rasanya meski kosong hatinya.

 “Lalu merayakan pergantian tahun dimana nanti malam?” pertanyaan yang kerap menganggu gendang telingaku.

Mungkin menghabiskan malam di kamar atau sekedar minum-minum kopi di kedai kawan. Atau mungkin makan eskrim di depan gerai Alfaoktober, atau mungkin juga mencoba balikan sama mantan. Apapun itu, tak ada rencana spesifik karena bagi saya tahun baru bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya perubahan angka dan menandakan bumi semakin tua, semoga saja Malaikat Isfil tidak ikut-ikutan meniup terompet nanti malam. Hahahah

Ada semacam aturan tak tertulis “bahwa setiap orang harus berpartisipasi dalam keriuhan tahun baru dan menjadi sebuah hukuman moral bagi yang tidak ikut memeriahkannya”. Liburan di akhir tahun memang bukan sekedar meninggalkan pekerjaan. Dan tak banyak yang merasa tersiksa jika harus melewatkan malam tahun baru ini tanpa ada sebuah perayaan, euforia kemenangan. Tidak afdol jika tidak membuat resolusi, kita akan menjadi orang yang tak seperti orang kebanyakan.

Ah ya sudah mari kita liburan kalau seperti itu. Menghabiskan malam di meja kopi seperti malam-malam sebelumnya. Mengungunjing perempuan cantik yang duduk sendirian di sudut kedai kopi, itu kalau ia tak bersama pacarnya. (Nakal boleh tolol jangan)

Kumbang Kidal (ARH)

Gambar: wikihow.com

Berikan Pandanganmu...