“To be or not to be” bagi Iran dan Amerika (Part. 2)

0
86

Oleh: Haruma

Kedua negara akhirnya menunjukkan gerak-geriknya, aksi reaksi yang saling merespon, ini menjadi semacam puzzle yang tidak sederhana. Coba sekarang kita rinci apa yang terjadi dengan reaksi Iran setelah terbunuhnya Jenderal besar Qassem Soleimani. Beberapa protes segera berlangsung, tepatnya di kedutaan besar Amerika yang terletak di Baghdad. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Presiden Trump yang secara terang-terangan mengatakan pembunuhan itu dilakukan atas perintah darinya. Coba deh lihat, Trump menyampaikan itu secara-terang-terangan.

Tidakkah terlihat sangat kentara bahwa motif pembunuhan itu adalah untuk memancing perhatian? Maka pertanyaannya adalah perhatian siapa? Tentu bukan saja perhatian Iran, tapi juga seluruh dunia. Tentu kita paham dengan gelagat yang ditunjukkan Trump, memang kebiasaannya sejak dahulu kala. Ia adalah seseorang yang gemar membuat pernyataan atau ucapan-ucapan yang chaotic, membuat semacam air mendidih atau panas api yang membara di mana-mana. Tapi tetap saja ini membuat kita penasaran dan selalu ingin bertanya, “apa sih sebenarnya maunya nih orang? Buat kacau aja hobinya”, paling tidak bahasanya seperti itu hehe. Sayangnya dalam ulasan beberapa media, belum ditemukaan semacam analisis dari para jurnalis untuk mempertanyakan hal ini.

Ketika pembunuhan Soleimani terjadi, publik dunia terutama Iran, dengan beragam kelompok politik akhirnya lumer dalam satu teriakan untuk mengecam tindakan yang dilakukan oleh Amerika. Ini menjadi semacam sesuatu yang telah diperhitungkan, sebuah akibat yang diinginkan. Oleh siapa? Tentu oleh pihak yang ada di luar itu, dalam hal ini adalah Amerika. Beragam kelompok yang lumer itu akhirnya dapat diketahui karena menganggap terbunuhnya Soleimani adalah menyalahi rasa keadilan mereka. Di sinilah kemudian muncul semacam gairah untuk bersatu. Tapi coba kita lihat apa yang terjadi kemudian? Pada hari pemakaman Soleimani, di antara ribuan orang yang bergerundel dalam prosesi pemakaman itu, sebagian dari mereka meninggal karena terinjak. Terhitung 56 orang yang menjadi korban (Tempo.co). Hal ini menunjukkan semacam paradoks di balik melumernya beragam kelompok tersebut. Apakah mereka murni tertimpa kematian akibat terinjak-injak? Ataukah ada hal yang mesti lebih diperhatikan daripada itu? yaa, tentu ada. rentetan kejadian ini seolah-olah seperti telah diperhitungkan. Perdebatan antara apakah benar 56 orang yang mati karena terinjak-injak ataukah telah disetting sedemikian rupa? Entahlah, namun ini semacam dugaan yang berasal dari kecurigaan saja.

Selang beberapa hari setelah itu terdapat isu lain, yaitu tentang jatuhnya salah satu pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan PS 752 di Teheran, Iran pada Rabu lalu. Beberapa pemimpin negara-negara barat menduga pesawat telah dijatuhkan oleh rudal Iran. Sejumlah 176 diberitakan meninggal dunia, mereka tidak hanya berasal dari Ukraina, namun juga Iran, Kanada, Swedia, Afghanistan, Jerman, dan juga Inggris. Segera setelah insiden itu terjadi, pihak Iran menolak tuduhan yang mengatakan bahwa penyebab jatuhnya pesawat tersebut karena rudal yang mereka tembakkan. Namun selang tiga hari kemudian tepatnya pada tanggal 11 Januari 2020, Angkatan Bersenjataa Iran mengaku telah menembak jatuh pesawat Ukraina, mengira pesawat komersial tersebut sebagai pesawat musuh. Protes segera terjadi di mana-mana, menuntut pertanggung jawaban dari pihak-pihak yang terlibat. Bahkan protes besar-besaran juga terjadi di Iran sendiri, menuntut Ayatollah Khomeini, pemimpin Iran yang dianggap para demonstran sebaagai seorang diktator untuk turun dari kursi kekuasaan. Baiklah, sekarang mari kita tutup artikel receh ini dengan beberapa pertanyaan. Terhadap jatuhnya pesawat Iran, apakah benar karena rudal yang ditembakkan Iran? Kalau iya, kenapa mereka begitu ceroboh?.

Terhadap pengakuan tersebut, kenapa perlu waktu selama tiga hari untuk diucapkan di ruang publik? Apa yang diperbincangkan selama tiga hari itu?. Terakhir, kenapa isu terjatuhnya pesawat Ukraina ini terkesan memojokkan Iran, dan memberi jalan terhadap Trump untuk membenarkan keputusannya membunuh Soleimani, karena mau tidak mau, isu Soleimani sekilas tertutup oleh bayang-bayang isu jatuhnya pesawat ini. Tentu media tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, namun perlu diketahui bahwa publik akhirnya berusaha membuka beragam kemungkinan. Penulis sendiri merasa bahwa rentetan kejadian dalam komplikasi cerita Amerika-Iran telah diperhitungkan, bagaikan sebuah novel yang dirancang oleh seorang pengarang. Sikap Iran terhadap kemungkinan protes-protes yang lebih besar akan sangat menentukan terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena bagaimanapun, beragam kelompok yang lumer tadi akan berpotensi menunjukkan kembali segregasi ulang, bahkan yang lebih tajam.

Hmm, cerita yang renyah untuk dinantikan kelanjutannya bukan? sembari menikmati
camilan dan seduhan kopi hitam hangat di pagi hari. (nakal boleh tolol jangan)

gambar: lhstoday.org

Berikan Pandanganmu...