“To be or not to be” Bagi Iran dan Amerika

0
187

Oleh: M.’Izzuddin Robbani Habe, atau nama pena “Haruma”

Melihat beberapa berita di media belakangan ini, membuat kepala kita semakin pening, namun juga menarik untuk kita bahas. Konflik Amerika dan Iran yang kian memanas menjadi trending topic. Eskalasi politik di antara kedua negara memanas pasca terbunuhnya Jendral Besar Iran, Qassem Soleimani, melalui serangan udara atas perintah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dugaan Trump yang beredar dalam beberapa media mengatakan bahwa Qassem Soleimani merupakan seorang teroris. Banyak juga yang menduga peristiwa ini merupakan sinyal yang diberikan oleh Amerika untuk memulai
perang. Dalih yang digunakan oleh Trump adalah aksi pencegahan terhadap potensi serangan yang lebih besar. Dalam salah satu kesempatan, trump mengatakan bahwa Qassem Soleimani sedang merencanakan beberapa serangan ke Amerika.

Peristiwa ini muncul berbarengan dengan issue klaim China atas perairan Natuna yang sedang ramai diperbincangkan di Indonesia. Namun kalau kita melihat public opinion dalam skala yang lebih luas. Isu tentang panasnya kondisi antara Amerika-Iran mengalahkan Isu Natuna yang terjadi di Indonesia. Bahkan bagi mereka yang menyukai sebuah cerita mungkin menganggap tema politik internasional lebih enak dibahas dan lebih dinantikan kelanjutannya daripada isu yang sedang terjadi dalam skala nasional. Apabila kedua isu ini disajikan dalam bentuk novel misalnya, bagi penulis sendiri, lebih tertarik untuk membaca konten yang disajikan oleh konflik antara Iran dan Amerika.

Kenapa tema cerita tentang Amerika dan Iran layak untuk dinikmati daripada isu yang lainnya?. Kalau kita mencoba membayangkan suatu kemungkinan, peristiwa terbunuhnya Soleimani tentunya memiliki banyak gerbong yang saling berkaitan di belakangnya. Artinya berpengaruh dalam banyak aspek seperti kondisi sosial, politik dan ekonomi. Perubahan sosial yang akan terjadi tentu saja akan mudah ditebak, selain hubungan antara kedua negara yang semakin memanas, hal ini juga akan menciptakan rasa saling curiga antara kedua negara. Hal ini tidak saja terjadi di kalangan elit politik, namu juga masyarakat awam pada umumnya. Kecurigaan ini semakin lama akan menjadi semacam sinopsis untuk
menggambarkan kemungkinan yang akan terjadi kemudian. Kenaikan harga minyak bumi di seluruh dunia misalnya, tak terhindarkan karena terganggunya saluran minyak di perairan teluk akibat potensi perang yang mingkin terjadi antara kedua negara, termasuk di Indonesia.

Lebih menarik lagi kondisi politik kedua negara diperkirakan telah sampai pada tahap menemui titik jenuh, artinya kedua negara sudah enggan menjalin sesuatu semacam katakanlah—utopia atau kedamaian—yang sudah terekam dalam memori publik mustahil untuk terjadi. Inilah kerumitannya. Di baliki gejolak politik yang sedemikian rupa, apa yang
sebenarnya akan terjadi? Apakah perang dunia ke tiga telah menemukan momentumnya? Entahlah, semoga saja tidak. Kalaupun hal itu terjadi, setiap orang musti tau bahwa peristiwa itu akan menghasilkan semacam konstruksi dunia baru yang akan terlahir. Dunia seperti apakah itu?. Bagi kedua negara, perseteruan ini menjadi semacam urusan, meminjam bahasa Shakespeare—to be or not to be (hidup atau mati)—itulah yang membuat cerita ini semakin menarik untuk dipantau. ‘Kepentingan’ lagi-lagi menjadi istilah yang tidak terlepas dalam hal ini. Isu politik selalu menyuguhkan sesuatu yang bersifat paradoksal, atau pseudo-realita.

Apa maksudnya? Ya, semacam sesuatu yang nampak seolah-olah terlihat demikian, namun sebenarnya menyimpan sesuatu yang justru menunjukkan sebaliknya. Dalam konteks Iran-Amerika, setiap pergerakan yang dilakukan oleh kedua negara menjadi semacam puzzle menarik, yang tak terduga-duga, bahkan bisa jadi berbanding terbalik dengan opini-opini yang dihadirkan oleh media. Nah, bagaimana? benar-benar kisah yang menarik untuk diikuti bukan? (nakal boleh tolol jangan)

gambar: newsclic.in

Berikan Pandanganmu...