Virus Rebahan dan Faktor Pendukungnya

0
392

Rebahan sebanarnya kata yang sudah sejak lama mengakar di KBBI, hanya saja dunia per-MEME-an dan humor receh masyarakat +69 menjadikan makana kata ini bergerser. Menurut KBBI; Rebahan, artinya tempat pembaringan, berbaring untuk beristirahat. Namun pergeseran makna oleh penafsiran para milenial, menjadikan rebahan sebagai faktor utama yang menghambat terealisasinya suatu rencana.

Ini semacam candu yang nikmat tetapi membuat wacana sebatas rencana, tak pernah menjadi kenyataan. Rebahan kini dianggap seperti virus, yang dinikmati meski jahat. Mungkin di kemudian hari Rebahan menjadi semacam passion atau juga sebagai pelarian. Kalau dahulu Karl Marx pernah meanalogikan bahwa agama itu adalah opium (candu) masyarakat. Maka boleh dong kalau kita katakan juga “Rebahan adalah candu”. Biar rada keren gitu dah.

Namun tunggu dulu, rebahan itu tidak berdiri sendiri. Ia seperti seperti jamur, parasit dan kamu yang tidak bisa tumbuh sempurna tanpa bergantung pada media lain. Virus Rebahan ini hanya bisa tumbuh dalam material lain. Jadi gini, Rebahan atau istirahat dengan posisi baring itu sudah ada sejak Adam dan Hawa masih di surga. Namun selama ribuan tahun (jutaan mungkin) tidak pernah tuh rebahan menjadi masalah.

Namun kenapa rebahan menjadi momok untuk menggambarkan kemalasan dan kenikmatan low budget di era milenial ini? Hal ini karena ada faktor pendukung, material lain yang membuat rebahan berevolusi menjadi virus-virus kemalasan. Faktor utamanya adalah gadget, coba bayangkan jika rebahan tanpa berselancar di media sosial. Dalam metodologi penelitian, gadget bisa disebut sebagai variabel independent yang berpengaruh langsung terhadap variabel dependent (rebahan).

Selanjutnya ada faktor-faktor tidak langsung, tapi juga ikut berpengaruh terhadap seberapa betah seseorang rebahan. Sebut saja colokan dan kipas angin, seseorang akan rebahan lebih lama jika di dekatnya ada colokan ditambah lagi jika ada kipas angin yang membantu menghilangkan hawa panas (ini didasarkan pengalaman sendiri).

Namun ada pula faktor-faktor penganggu, yang membuat rebahan tidak senikmat namanya. Kita bisa mengindentifikasi, lapar, mules dan kuota limit sebagai faktor yang membuat prosesi rebahan menjadi tidak khusyuk. Masalah perut, baik rasa lapar atau ingin buang air, menjadi penghambat utama yang mampu menarik seseorang bangkit memijak di dunia nyata dari alam mimpi. Jadi jika anda ingin mengatasi virus rebahan di pagi hari dengan instan, anda bisa konsumsi makanan pedas sebanyak mungkin di malam hari. Dijamin anda tidak akan lagi berlama-lama di atas kasur, paling-paling ya nongkrong di dalam kamar mandi.

Kutipan asik dari Buya Hamka “Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah”. Pembaca pelatar yang cerdas-cerdas nan lucu-lucu harusnya paham dong makna kalimat ini. Tak perlu lagi ane jelaskan maksudnya apa.

Selamat berakhir pekan dan mari rayakan rebahan, tapi jangan berlebihan. Cukupkan sebagai hak atas lelah tubuhmu untuk istirahat bukan sebagai gaya hidup. Sebab biaya nikah meletijit tiga kali lipat dari angka inflasi. Jika masa mudamu terjangkit oleh virus rebahan, maka engkau terjebak dalam kenikmatan semu. Maka suatu saat penyelasanmu akan terjebak dalam tubuh tua mu yang tak sanggup merawat dirinya sendiri. (Nakal boleh, tolol jangan)

Kumbang Kidal (ARH)

Berikan Pandanganmu...